Kamis, 24 Juli 2008

Dan Pemenangnya Adalah Golput (Refleksi Pilgub Jatim Untuk Pilgub Lampung

Pesta demokrasi pemilihan gubernur Jawa Timur baru saja berlalu, dan berdasarkan hasil perhitungan suara quick count berbagai lembaga survey, Sukarwo dan Khofifah akan melenggang ke putaran dua. Sukarwo yang didukung oleh Partai Demokrat, PAN, dan PKS, serta Khofifah yang diusung koalisi 12 parpol, mengalahkan pasangan yang yang diusung partai besar macam Golkar, PDIP, dan PKB.

Saat ini saya tidak ingin menganalisa faktor-faktor mengapa Sukarwo dan Khofifah bisa mengungguli pesaing-pesaingnya yang didukung penuh partai-partai besar. Terus terang saya tertarik dengan jumlah golput yang mencapai 40 %. Jumlah yang besar, bahkan mengalahkan perolehan suara dari Sukarwo atau Khofifah.

Mengapa penduduk Jatim sampai sebesar itu yang memilih golput? Jawaban sederhana berdasarkan asumsi saya, masyarakat sudah bosan dengan janji-janji politikus. Saat ini masyarakat memiliki pendapat, buat apa memilih jika nanti yang terpilih tidak memperhatikan pemilihnya? Tidak menepati janji-janji yang pernah dilontarkan.

Apakah mereka salah? Tentu saja tidak, karena itu memang pendapat mereka dan pilihan mereka. Saat menonton berita sore hari (Redaksi Sore Trans 7, tanggal 24 Juli), seorang pengamat politik, yang saya lupa namanya, mengatakan bahwa jumlah golput yang mencapai 40 % itu merupakan kesadaran politik mereka. Kesadaran politik? Tiba-tiba saja saya tersentak, bayangkan saja, jika pada pemilu 2009 nanti semua masyarakat Indonesia mempunyai kesadaran politik seperti masyarakat Jatim, bisa dibayangkan berapa puluh juta penduduk Indonesia yang tidak menyalurkan haknya.

Apa akibatnya bagi mereka yang tidak memilih dan bagi mereka yang terpilih untuk memimpin? Bagi masyarakat yang memlih golput, life must goes on, ada atau tidak ada pilkada/pilgub/pemilu sama saja bagi mereka. Mereka tetap berkutat dengan kesibukan mereka sehari-hari, bekerja untuk tetap hidup. Bagi mereka pilkada/pilgub/pemilu tidak akan mengubah nasib mereka. Ini didasarkan pada pengalaman politik mereka. Pemimpin boleh ganti-ganti, tapi kehidupan tetap susah, semua biaya kebutuhan hidup terus menanjak, dan mereka tetap jalan ditempat.

Bagi mereka yang terpilih, ini yang harus menjadi catatan, walaupun terpilih melalui proses pemilihan yang disebut-sebut demokratis, tapi jika jumlah golput sampai 40 % bisa jadi pemimpin yang terpilih tidak mendapat legitimasi dari masyarakat. Jadi kalau sampai pemimpin terpilih membuat kebijakan yang merugikan rakyat, tentuya golongan golput akan berkata, “itukan pilihan lu, syukurin milih pemimpin gak bener”. Tapi jika sebaliknya, pemimpin terpilih membuat kemajuan dalam pembangunan dan perbaikan hidup masyarakat, mereka tidak masalah, mereka tetap menikmati. Tapi sang pemimpin bisa mendapat nilai plus dan menyadarkan masyarakat bahwa pilihan mereka untuk golput itu keliru.

Perlu Kerja Keras

Saat ini, yang perlu dilakukan untuk meminimalisir golput adalah kerja keras menepis keraguan masyarakat. Kerja keras siapa? Semua pihak tentunya, mulai dari KPU, pemerintah, parpol, sampai masyarakat itu sendiri. Tapi kalau saya secara pribadi, tanpa menafikkan yang lain, parpollah yang harus bekerja keras. Mereka harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa pilkada, pilgub atau pemilu adalah ajang masyarakat untuk mengganti mereka-mereka yang sebelumnya dinilai gagal.

Kesalahan bahwa parpol hanya bekerja menjelang pemilihan memang masih melekat dibenak masyarakat. Mendekat saat ada keinginan, menjauh saat keinginan tercapai. Paradigma ini yang harus diubah. Memang parpol adalah alat untuk merebut kekuasaan. Tapi harus diingat juga, parpol mempunyai fungsi sebagai alat pendidikan politik bagi masyarakat. Kebanyakan partai belum menjalankan fungsi yang ini. Masyarakat masih dianggap sebagai subyek, bukan mitra yang seharusnya diajak kerjasama untuk membangun bangsa.

Bekerja kalau sudah dekat pemilihan, bagaimana kalau paradigma ini diubah? Ada atau tidak ada pemilihan parpol tetap bekerja. Mau pemilihan itu dua tahun lagi atau lima tahun lagi, parpol seharusnya tetap bekerja. Bikin kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarkat, entah itu seminggu sekali, dua minggu, sekali, tiga minggu sekali, atau sebulan sekali. Yang penting itu dilakukan dengan rutin. Bentuknya bisa saja bakti social berupa bazaar sembako murah, khitanan massa, pelayanan kesehatan gratis, kerja bakti membersihkan kampong, dan sebagainya. Jika rutin, saya yakin, masyarakat juga akan menilai bahwa partai ini atau partai itu dekat dengan masyarakat dan memperjuangkan kepentingan mereka.

Ditengah kecanggihan informasi seperti saat ini, sudah tidak jamannya lagi jika parpol atau orang yang dicalonkan parpol mengumbar janji kosong. Kuncinya sekarang adalah lakukan, kerjakan dan masyarakat akan melihat kerja kita.

Harapannya sekarang adalah kita, yang akan menggelar hajatan pilgub, bisa belajar dari daerah lain yang telah menggelar pilgub lebih dulu. Kerja keras kita semua untuk meminimalisir golput serendah mungkin. Sudah saatnya masyarakat diberi pengertian yang lebih dalam kenapa mereka harus memilih dan menyalurkan hak mereka. Bukan diberi janji. lagi-lagi janji, lagi-lagi janji, kapan buktinya, wallahu ‘alam bissawab.

Read More......

Selasa, 22 Juli 2008

Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono

Entah kenapa, saya ingin membaca puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono, sudah lama sekali saya tidak membacanya. Puisi-puisinya seakan-akan mampu membangkitkan sisi romantis dari hati saya, hahaha....




pada suatu hari nanti

pada suatu hari nanti
jasadku takakan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetapa kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari


aku ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

“Hujan Bulan Juni”

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono)

Read More......

Lama Tak Menulis

Sudah beberapa bulan blog ini saya tinggalkan. Sekedar Info, saya tidak bekerja di Rumah Zakat lagi. Banyak ketidak cocokkan yang membuat saya keluar dari tempat itu. Saya kembali menekuni pekerjaan lama saya sebagai Redaktur Buletin Bulanan Suara Keadilan.Semoga tetap semangat dalam menulis, menuangkan ide-ide dan kreatifitas...

Read More......

MENGAPA MEMPERHATIKAN ANAK HANYA PADA HARI ANAK NASIONAL?

Tanggal 23 Juli, secara nasional tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Ya, harinya untuk anak-anak. Pelbagai kegiatan digelar untuk memperingati hari tersebut. Anak-anak seperti dijadikan raja pada tanggal tersebut. Berlomba-lomba orang mengkritisi apa yang seharusnya kita lakukan untuk mendidik anak kita. Tapi,timbul pertanyaan besar? Hanya sebatas itukah perhatian pada anak? Apakah anak hanya mendapat tempat pada peringatan Hari Anak Nasional?

Saya jadi teringat pada ucapan Ketua Komnas PA, Seto Mulyadi. Menurut Seto, perhatian terhadap anak Indonesia meningkat menjelang peringatan hari anak nasional,namun setelah itu mulai menurun lagi. “Yah, kalau memang kesadaran masyarakat baru sebatas itu tidak apalah. Tapi paling tidak kita punya hari dimana kita mengingat nasib anak Indonesia,” katanya.(Suara Pembaruan, 24 Juli 2003). Pernyataan yang dikeluarkannya lima tahun yang lalu, tapi masih kita rasakan sampai sekarang.

Seto menyebutkan bahwa paradigma yang dibentuk masyarakat saat ini masih sangat merugikan anak. Orang tua berpendapat bahwa anak adalah hak orang tua sehingga dibenarkan untuk tidak memberikan pilihan pada anak.

Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa

Kalimat ini masih saya pinjam dari perkataan Seto Mulyadi. Jika kita perhatikan sekarang ada kecenderungan para orang tua memaksakan keinginannya pada sang anak. Anak di jejali berbagai macam les dan kursus. Bahkan ada kecenderungan dari orang tua zaman sekarang untuk memperkuat anak secara akademis. Sejak dari KB (Kelompok Bermain) maupun TK (Taman Kanak-kanak). Cukup banyak orang tua yang memilih les yang hanya berhubungan dengan kemampuan akademis semata. Padahal kita semua tahu, tidak semua anak Indonesia berbakat pada pelajaran eksakta. Demikian juga tidak semua anak senang dengan pelajaran menghafal.

Sebenarnya setiap anak memiliki talenta masing-masing. Tugas utama orang tua dan pendidiknya untuk menemukan dan mengasah talenta tersebut. Dukungan orang tua, pendidik dan lingkungan anak sangat menentukan dalam memotivasi anak memperkuat talentanya.

Anda tahu He Ah Lee, pianis dengan hanya empat jari? (Saya sempat menonton anak tersebut di acara Kick Andy,di Metro TV). Ternyata ibunya dengan berurai air mata terpaksa ikut mengajarkan disiplin kepada anaknya untuk terus berlatih, tapi di lain pihak ia tahu ini adalah talenta sang anak yang perlu dikembangkan.

Contoh lain, Masruri Rahmat, pecatur cilik kelas dunia anak seorang sopir bajaj ini berhasil menyabet juara pertama kejuaraan di tingkat ASEAN dan masuk 10 besar pecatur dunia untuk kelas anak. Bagi Masruri, keadaan ekonomi ayahnya, Mudhakir Rahmat tidak menghalagi niat untuk maju. Mudhakir ingin nasib anaknya lebih maju. Karena itulah Mudhakir mengajari Masruri mengatur bidak sejak duduk di kelas satu sekolah dasar.

Keberhasilan He Ah Lee dan Masruri pasti memiliki dukungan dan dorongan yang cukup sehingga bisa mencapai prestasi mereka. Bakat tinggi dari mereka berbuah dengan cepat karena sejak awal mereka sudah memperoleh pemupukan yang tepat.

Tetapi dorongan dan pemupukan talenta anak harus tetap dalam koridornya sebagai hak anak atas pendidikan. Bukan sebaliknya menjadi landasan eksploitasi terhadap bakat anak. Keseimbangan terhadap hak dan kewajibannya akan membantu membentuk anak yang mandiri. Semuanya tentu berjalan sesuai dengan waktu yang sesuai dengan umurnya.

Saatnya Meningkatkan Perhatian dan Kepedulian Hak-Hak Anak

Anak adalah calon generasi pengganti para pemimpin saat ini. Anak juga adalah aset pembangunan bangsa. Setelah beranjak menjadi remaja kemudian dewasa, ia akan menjadi tulang punggung di keluarganya, baik menjadi seorang ibu maupun seorang ayah. Sebaik kita semua segera membuat langkah-langkah nyata perbaikan nasib anak Indonesia, karena masih banyak anak Indonesia yang terampas hak-haknya..

Salah satu hak anak tersebut adalah pendidikan. Pendidikan adalah hak asasi manusia yang harus senantiasa dijamin keberadaannya. Oleh karena itu pendidikan harus menjadi milik semua orang (anak), tanpa terkecuali. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi pernah mengungkapkan, saat ini masih banyak anak Indonesia yang belum mengenyam pendidikan. Faktor utamanya adalah kesulitan ekonomi dan tingginya biaya pendidikan. Menurut beliau, maraknya komersialisasi pendidikan salah satunya adalah akibat paradigma orang tua yang keliru dalam memandang pendidikan. "Seolah-olah sekolah yang mahal sudah pasti bagus".

Bagaimana caranya meningkatkan pendidikan pada anak? Untuk yang satu ini, saya merasa bukan dalam kemampuan saya untuk membahasnya. Saya kira cukup banyak orang-orang pintar dan cerdas di negeri ini yang bisa merumuskan bagaimana caranya pendidikan bisa dijangkau oleh semua kalangan.

Hal berikut yang yang diperhatikan terkait dengan anak-anak adalah kebiasaan dalam menonton TV. Satu ide cerdas dari Seto Mulyadi (dalam tulisan ini Seto Mulyadi memang menjadi referensi saya) adalah warga setempat menentukan sendiri waktu tanpa televisi, agar semua anak di lingkungannya bisa belajar dengan tenang. Dalam kaitan itu, Kak Seto menilai perlu adanya pengawasan misalnya dari tetangga. Lembaga rukun tetangga dan rukun warga, kata dia, harus dihidupkan dalam konteks memenuhi hak anak atas pendidikan.

Tapi untuk mengefektifkan kampanye itu, memang belum saatnya pemerintah mengeluarkan peraturan resmi. Mesti dilakukan secara perlahan-lahan dan dilihat bagaimana reaksinya di masyarakat.

Terakhir, peringatan hari anak nasional seharusnya tidak hanya menjadi sebuah peringatan saja. Melainkan seharusnya menjadi bahan introspeksi pemerintah, instansi terkait dan menjadi perhatian seluruh warga Indonesia agar anak Indonesia menjadi anak yang tidak cengeng, mandiri, baik dan berkualitas sehingga nantinya bisa menjadi seorang pemimpin yang baik.

Read More......