Tanggal 23 Juli, secara nasional tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Ya, harinya untuk anak-anak. Pelbagai kegiatan digelar untuk memperingati hari tersebut. Anak-anak seperti dijadikan raja pada tanggal tersebut. Berlomba-lomba orang mengkritisi apa yang seharusnya kita lakukan untuk mendidik anak kita. Tapi,timbul pertanyaan besar? Hanya sebatas itukah perhatian pada anak? Apakah anak hanya mendapat tempat pada peringatan Hari Anak Nasional?
Saya jadi teringat pada ucapan Ketua Komnas PA, Seto Mulyadi. Menurut Seto, perhatian terhadap anak Indonesia meningkat menjelang peringatan hari anak nasional,namun setelah itu mulai menurun lagi. “Yah, kalau memang kesadaran masyarakat baru sebatas itu tidak apalah. Tapi paling tidak kita punya hari dimana kita mengingat nasib anak Indonesia,” katanya.(Suara Pembaruan, 24 Juli 2003). Pernyataan yang dikeluarkannya lima tahun yang lalu, tapi masih kita rasakan sampai sekarang.
Seto menyebutkan bahwa paradigma yang dibentuk masyarakat saat ini masih sangat merugikan anak. Orang tua berpendapat bahwa anak adalah hak orang tua sehingga dibenarkan untuk tidak memberikan pilihan pada anak.
Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa
Kalimat ini masih saya pinjam dari perkataan Seto Mulyadi. Jika kita perhatikan sekarang ada kecenderungan para orang tua memaksakan keinginannya pada sang anak. Anak di jejali berbagai macam les dan kursus. Bahkan ada kecenderungan dari orang tua zaman sekarang untuk memperkuat anak secara akademis. Sejak dari KB (Kelompok Bermain) maupun TK (Taman Kanak-kanak). Cukup banyak orang tua yang memilih les yang hanya berhubungan dengan kemampuan akademis semata. Padahal kita semua tahu, tidak semua anak Indonesia berbakat pada pelajaran eksakta. Demikian juga tidak semua anak senang dengan pelajaran menghafal.
Sebenarnya setiap anak memiliki talenta masing-masing. Tugas utama orang tua dan pendidiknya untuk menemukan dan mengasah talenta tersebut. Dukungan orang tua, pendidik dan lingkungan anak sangat menentukan dalam memotivasi anak memperkuat talentanya.
Anda tahu He Ah Lee, pianis dengan hanya empat jari? (Saya sempat menonton anak tersebut di acara Kick Andy,di Metro TV). Ternyata ibunya dengan berurai air mata terpaksa ikut mengajarkan disiplin kepada anaknya untuk terus berlatih, tapi di lain pihak ia tahu ini adalah talenta sang anak yang perlu dikembangkan.
Contoh lain, Masruri Rahmat, pecatur cilik kelas dunia anak seorang sopir bajaj ini berhasil menyabet juara pertama kejuaraan di tingkat ASEAN dan masuk 10 besar pecatur dunia untuk kelas anak. Bagi Masruri, keadaan ekonomi ayahnya, Mudhakir Rahmat tidak menghalagi niat untuk maju. Mudhakir ingin nasib anaknya lebih maju. Karena itulah Mudhakir mengajari Masruri mengatur bidak sejak duduk di kelas satu sekolah dasar.
Keberhasilan He Ah Lee dan Masruri pasti memiliki dukungan dan dorongan yang cukup sehingga bisa mencapai prestasi mereka. Bakat tinggi dari mereka berbuah dengan cepat karena sejak awal mereka sudah memperoleh pemupukan yang tepat.
Tetapi dorongan dan pemupukan talenta anak harus tetap dalam koridornya sebagai hak anak atas pendidikan. Bukan sebaliknya menjadi landasan eksploitasi terhadap bakat anak. Keseimbangan terhadap hak dan kewajibannya akan membantu membentuk anak yang mandiri. Semuanya tentu berjalan sesuai dengan waktu yang sesuai dengan umurnya.
Saatnya Meningkatkan Perhatian dan Kepedulian Hak-Hak Anak
Anak adalah calon generasi pengganti para pemimpin saat ini. Anak juga adalah aset pembangunan bangsa. Setelah beranjak menjadi remaja kemudian dewasa, ia akan menjadi tulang punggung di keluarganya, baik menjadi seorang ibu maupun seorang ayah. Sebaik kita semua segera membuat langkah-langkah nyata perbaikan nasib anak Indonesia, karena masih banyak anak Indonesia yang terampas hak-haknya..
Salah satu hak anak tersebut adalah pendidikan. Pendidikan adalah hak asasi manusia yang harus senantiasa dijamin keberadaannya. Oleh karena itu pendidikan harus menjadi milik semua orang (anak), tanpa terkecuali. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi pernah mengungkapkan, saat ini masih banyak anak Indonesia yang belum mengenyam pendidikan. Faktor utamanya adalah kesulitan ekonomi dan tingginya biaya pendidikan. Menurut beliau, maraknya komersialisasi pendidikan salah satunya adalah akibat paradigma orang tua yang keliru dalam memandang pendidikan. "Seolah-olah sekolah yang mahal sudah pasti bagus".
Bagaimana caranya meningkatkan pendidikan pada anak? Untuk yang satu ini, saya merasa bukan dalam kemampuan saya untuk membahasnya. Saya kira cukup banyak orang-orang pintar dan cerdas di negeri ini yang bisa merumuskan bagaimana caranya pendidikan bisa dijangkau oleh semua kalangan.
Hal berikut yang yang diperhatikan terkait dengan anak-anak adalah kebiasaan dalam menonton TV. Satu ide cerdas dari Seto Mulyadi (dalam tulisan ini Seto Mulyadi memang menjadi referensi saya) adalah warga setempat menentukan sendiri waktu tanpa televisi, agar semua anak di lingkungannya bisa belajar dengan tenang. Dalam kaitan itu, Kak Seto menilai perlu adanya pengawasan misalnya dari tetangga. Lembaga rukun tetangga dan rukun warga, kata dia, harus dihidupkan dalam konteks memenuhi hak anak atas pendidikan.
Tapi untuk mengefektifkan kampanye itu, memang belum saatnya pemerintah mengeluarkan peraturan resmi. Mesti dilakukan secara perlahan-lahan dan dilihat bagaimana reaksinya di masyarakat.
Terakhir, peringatan hari anak nasional seharusnya tidak hanya menjadi sebuah peringatan saja. Melainkan seharusnya menjadi bahan introspeksi pemerintah, instansi terkait dan menjadi perhatian seluruh warga Indonesia agar anak Indonesia menjadi anak yang tidak cengeng, mandiri, baik dan berkualitas sehingga nantinya bisa menjadi seorang pemimpin yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar